JAKARTA, KOMPAS.com – Selain untuk down payment (DP) kredit kendaraan bermotor (KKB), Bank Indonesia juga berniat mengurangi pertumbuhan kredit konsumtif, yang salah satunya pengaturan besaran loan to value (LTV) untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).

Untuk pertumbuhan kredit yang sifatnya konsumtif diharapkan dapat lebih lambat. Pertimbangan lain adalah agar pemberian kredit tidak dilakukan tanpa down payment yang jelas.
— Darmin Nasution

“BI memang ingin mendorong pertumbuhan kredit, tapi untuk pertumbuhan kredit yang sifatnya konsumtif diharapkan dapat lebih lambat. Pertimbangan lain adalah agar pemberian kredit tidak dilakukan tanpa down payment yang jelas,” kata Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta, Jumat (16/3/2012).

BI telah mengeluarkan Surat Edaran Bank Indonesia No 14/10/DPNP tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Kendaraan Bermotor, rasio LTV untuk KPR adalah maksimal 70%, sedangkan DP minimal bagi motor sebesar 25 persen, mobil minimal DP 30 persen, dan untuk keperluan produktif minimal DP 20 persen.

“Besaran tersebut diambil dengan pertimbangan bahwa angka itu tidak jauh dari praktik di lapangan selama ini, dan kami juga melihat negara lain seperti apa, keputusan ini sudah dipersiapkan sejak tahun lalu,” tambah Darmin.

Darmin juga menambahkan bahwa Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) juga menyepakati aturan mengenai pembatasan kredit itu dan akan mengeluarkan kebijakan serupa bagi lembaga keuangan.

“Aturan ini lebih bagus lagi karena sama-sama ditujukan bagi perbankan dan lembaga pembiayaan, Bapepam-LK juga mengeluarkan aturan yang sama untuk lembaga pembiayaan walau besarannya sedikit berbeda, kalau tidak salah DP lembaga pembiayaan lebih rendah lima persen,” ungkap Darmin.

Ia melihat, pertumbuhan kredit konsumtif, yaitu KPR maupun KKB pada 2011 mencapai sekitar 33 %. Angka itu lebih besar dibandingkan pertumbuhan kredit keseluruhan yang hanya sebesar 24-25%.

“Dampak pengaturan ini kami lihat memang tidak besar, tapi dapat memperlambat. Kami sudah memiliki perhitungan, misalnya bila DP untuk KPR bertambah sekian persen, maka akan berkurang sekian,” jelas Darmin tanpa mengungkapkan nilai perhitungan tersebut.

Untuk LTV atau angka rasio antara nilai kredit yang dapat diberikan oleh bank terhadap nilai agunan pada saat awal pemberian kredit, sebesar maksimal 70% untuk KPR meliputi kredit konsumsi kepemilikan rumah tinggal, termasuk rumah susun atau apartemen.

Namun demikian, angka itu tidak termasuk rumah kantor dan rumah toko, dengan tipe bangunan lebih dari tujuh puluh meter persegi. Pengaturan mengenai LTV dikecualikan terhadap KPR dalam rangka pelaksanaan program perumahan pemerintah.

Iklan