KOMPAS.com – Orangtua memiliki peran masing-masing saat mengasuh anak, dimana peran tersebut memberikan pengaruh tersendiri pada perkembangan jiwa dan kepribadian anak. Menurut psikolog Anna Surti Ariani, SPsi, Msi, ibu memiliki peran terbesar pada perawatan dan pengasuhan anak, sedangkan ayah berperan pada bagian aktivitas yang lebih aktif dan pembentukan pribadi anak.

“Seharusnya kedua orangtua bekerjasama untuk pembagian peran ini agar kebutuhan perhatian anak menjadi tercukupi dan lengkap,” tukas Anna dalam acara diskusi yang diselenggarakan Oreo, beberapa waktu lalu.

Salah ketika masih ada orang yang berpikir bahwa pengasuhan anak hanya menjadi tugas ibu, sementara sang ayah hanya “bertugas” mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga tidak ingin ikut mengasuh, mendidik, dan memenuhi kebutuhan kasih sayang anak. Padahal, ketika ayah lebih berperan pada pengasuhan dan pemberian kasih sayang pada anak, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih positif dan lebih aktif. Bukan berarti pola pengasuhan ibu saja tidak akan membentuk pribadi anak yang mandiri dan positif, melainkan ada sisi lain yang kurang berkembang pada diri anak karena tidak seimbangnya perhatian dari sang ayah.

Dalam hal ini, ayah memiliki pengaruh dalam segi kreativitas dan aktivitas untuk mengarahkan anak mengembangkan sisi aktif dan kreatifnya, serta kesiapan untuk melalui tantangan yang ada. “Untuk mendapatkan perkembangan psikologis anak yang baik, diperlukan adanya momen kebersamaan antara orangtua lengkap dengan anak-anak,” tambahnya. Momen kebersamaan ini bisa membantu menyeimbangkan perkembangan psikologis anak, sekaligus menghangatkan hubungan anak dan orangtua.

Konsistensi dan komitmen orangtua
Pentingnya keseimbangan kasih sayang yang diberikan ayah dan ibu kepada anak-anak memang sudah terbukti berpengaruh pada keseimbangan dan perkembangan psikologis anak. Walaupun terkadang kurangnya perhatian dari salah satu orangtua bisa saja terjadi karena perceraian atau kematian, dan mengharuskan salah satunya menjadi orangtua tunggal. Namun, jika kurangnya kasih sayang orangtua disebabkan karena perceraian, sebaiknya hindari adanya pembatasan curahan frekuensi kasih sayang dari salah satunya.

Ketika bercerai, dan hak asuh anak ada di tangan Anda, jangan membatasi mantan suami untuk tetap menyayangi dan memberi perhatian pada anak. “Meskipun sudah bercerai, sebaiknya tetap ada konsistensi dan komitmen orangtua untuk saling bekerjasama mengasuh dan memberi yang terbaik untuk perkembangan psikologis anak,” sarannya.

Komitmen dan konsistensi ini seringkali semakin berkurang kadarnya ketika masing-masing orangtua sudah memiliki pasangan hidup yang baru. Sekalipun anak menyayangi orangtua tiri sama besarnya dengan orangtua kandungnya, namun dari lubuk hatinya, anak tetap merindukan kasih sayang dari orangtua kandungnya. Hal ini terutama berlaku pada anak yang sudah cukup besar, sehingga mengerti ketika orangtuanya bercerai.

Ditambahkan Anna, anak yang memiliki banyak “pengasuh” seperti pengasuh, ibu, ayah, orangtua tiri, kakek-nenek, dan lainnya, kondisi psikologisnya juga akan terpengaruh. “Ketika anak punya banyak ‘pengasuh’, dia akan menjadi anak yang kepribadiannya tidak stabil karena terlalu banyak pengaruh dari orang lain. Sebaiknya fokuskan pengasuhan dan perkembangan mental anak hanya pada orangtua kandung, sedangkan yang lainnya hanya sebagai pendukung saja,” pungkasnya.